Tersenyum hambar. Hanya itu yang bisa kulakukan
dengan semua kejadian yang tidak ku mengerti ini. Aku ingin menagih penjelasan
kepada mereka tetapi aku merasa ada yang mengganjal. Sehingga ku urungkan niat
untuk bertanya. Aku hanya mendengar desas desus yang sudah tersebar ke
se-antero kantor mengenai pertunanganku dengan patra, lelaki idaman yang
diidolakan banyak wanita karena patra adalah laki-laki mapan yang memiliki
fisik yang jauh dari kata lumayan.Tetapi itu belum cukup untuk menutupi rasa
bingung dan rasa ingin tahu yang aku miliki saat ini. Maka aku lebih memilih bertanya
langsung pada sumbernya. Segera aku mengambil telepon genggam dan menghubungi
patra, pertama kali voicemail yang menjawab, dua kali tersambung tapi tidak
diangkat, empat kali, nonaktif. Merasa khawatir tetapi lebih seperti curiga dan
kecewa. Perasaan seperti apakah itu. Maka tujuh jam sebelum jam kantor berakhir
ku habiskan dengan uring-uringan dan hampir setiap yang aku kerjakan berhujung
dengan kritikan dari atasan.
Jam kantor pun akhirnya selesai, saatnya pulang.
Tidak, aku tidak pulang kerumah, tetapi menuju kerumah patra. Taksi yang sedari
tadi sudah ku pesan, akhirnya tiba. Secepat kilat aku melompat ke kursi
penumpang dan memberikan alamat tempat tinggal patra. Selama perjalanan, hati
ini resah tak menentu. Akhirnya gerbang perumahan tempat tinggal patra sudah
terlihat didepan mata, tapi aku masih ragu, haruskah aku datang menemuinya
hanya untuk menanyakan perihal pertunangan yang sekarang sudah menjadi trending
topic di kantor ku. Aku pun segera keluar dari taksi dan membayar jasa sang
supir taksi. Aku memilih berjalan melewati gerbang daripada masuk dengan taksi.
Rasa ragu, curiga dan khawatir yang aku rasakan tadi terjawab sudah saat tak
sengaja melihat adegan drama-romantis tepat di depanku, di pelataran parkir itu.
Seorang wanita berperawakan bak model papan atas bergelayutan manja menggamit
lengan laki-laki yang selama dua tahun ini telah menjadi kekasihku. Kepalanya ia
sandarkan ke pundak kekasihku. Mereka bercengkrama layaknya sepasang kekasih. Salahkah
mata ini menangkap cahaya yang masuk ke mata untuk dikirimkan ke kornea,
sehingga cahaya yang melewati pupil menuju lensa yang memfokuskan cahaya ke
retina bisa membuat ku melihat wanita bak bidadari berdiri disamping kekasihku.
Adakah kesalahan pada pola makanku yang membuat ini terjadi. Semakin tak masuk
akal saja pikiran ku.
Kacau. Satu kata yang cukup menggambarkan semua
rasa dihati dan pikiran ini. Kekacauan apa lagi yang akan terjadi setelah ini. Tidak
lama kemudian patra menyadari kehadiranku. Wajahnya berubah menjadi pucat pasi.
Layaknya seorang suami yang tertangkap sedang berselingkuh. Tingkah lakunya
yang seperti itu membuat aku Semakin mengerti dengan situasi yang terjadi
didepan mataku. Ternyata organ-organ pada mataku masih berfungsi dengan baik. Oh
ayolah, kenapa aku masih saja diam menikmati adegan demi adegan yang membuat
hati ini seperti dialiri lahar panas yang berasal dari gunung merapi yang baru
saja meletus.
Setelah saraf ditubuh ini kembali menjalankan
tugasnya sebagai pengendali reaksi. Maka aku pun meninggalkan perumahan tempat
tinggal patra. Aku juga meninggalkan cintaku, harapanku, impianku, dan semua
yang sudah aku rencanakan, aku tinggalkan disana. Aku ingin pulang dan mulai
berdamai dengan hati.