Showing posts with label Berlian Hitam. Show all posts
Showing posts with label Berlian Hitam. Show all posts

Sunday, 4 May 2014

Berlian Hitam (you screwed up my life)

Tersenyum hambar. Hanya itu yang bisa kulakukan dengan semua kejadian yang tidak ku mengerti ini. Aku ingin menagih penjelasan kepada mereka tetapi aku merasa ada yang mengganjal. Sehingga ku urungkan niat untuk bertanya. Aku hanya mendengar desas desus yang sudah tersebar ke se-antero kantor mengenai pertunanganku dengan patra, lelaki idaman yang diidolakan banyak wanita karena patra adalah laki-laki mapan yang memiliki fisik yang jauh dari kata lumayan.Tetapi itu belum cukup untuk menutupi rasa bingung dan rasa ingin tahu yang aku miliki saat ini. Maka aku lebih memilih bertanya langsung pada sumbernya. Segera aku mengambil telepon genggam dan menghubungi patra, pertama kali voicemail yang menjawab, dua kali tersambung tapi tidak diangkat, empat kali, nonaktif. Merasa khawatir tetapi lebih seperti curiga dan kecewa. Perasaan seperti apakah itu. Maka tujuh jam sebelum jam kantor berakhir ku habiskan dengan uring-uringan dan hampir setiap yang aku kerjakan berhujung dengan kritikan dari atasan.

Jam kantor pun akhirnya selesai, saatnya pulang. Tidak, aku tidak pulang kerumah, tetapi menuju kerumah patra. Taksi yang sedari tadi sudah ku pesan, akhirnya tiba. Secepat kilat aku melompat ke kursi penumpang dan memberikan alamat tempat tinggal patra. Selama perjalanan, hati ini resah tak menentu. Akhirnya gerbang perumahan tempat tinggal patra sudah terlihat didepan mata, tapi aku masih ragu, haruskah aku datang menemuinya hanya untuk menanyakan perihal pertunangan yang sekarang sudah menjadi trending topic di kantor ku. Aku pun segera keluar dari taksi dan membayar jasa sang supir taksi. Aku memilih berjalan melewati gerbang daripada masuk dengan taksi. Rasa ragu, curiga dan khawatir yang aku rasakan tadi terjawab sudah saat tak sengaja melihat adegan drama-romantis tepat di depanku, di pelataran parkir itu. Seorang wanita berperawakan bak model papan atas bergelayutan manja menggamit lengan laki-laki yang selama dua tahun ini telah menjadi kekasihku. Kepalanya ia sandarkan ke pundak kekasihku. Mereka bercengkrama layaknya sepasang kekasih. Salahkah mata ini menangkap cahaya yang masuk ke mata untuk dikirimkan ke kornea, sehingga cahaya yang melewati pupil menuju lensa yang memfokuskan cahaya ke retina bisa membuat ku melihat wanita bak bidadari berdiri disamping kekasihku. Adakah kesalahan pada pola makanku yang membuat ini terjadi. Semakin tak masuk akal saja pikiran ku.

Kacau. Satu kata yang cukup menggambarkan semua rasa dihati dan pikiran ini. Kekacauan apa lagi yang akan terjadi setelah ini. Tidak lama kemudian patra menyadari kehadiranku. Wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Layaknya seorang suami yang tertangkap sedang berselingkuh. Tingkah lakunya yang seperti itu membuat aku Semakin mengerti dengan situasi yang terjadi didepan mataku. Ternyata organ-organ pada mataku masih berfungsi dengan baik. Oh ayolah, kenapa aku masih saja diam menikmati adegan demi adegan yang membuat hati ini seperti dialiri lahar panas yang berasal dari gunung merapi yang baru saja meletus.


Setelah saraf ditubuh ini kembali menjalankan tugasnya sebagai pengendali reaksi. Maka aku pun meninggalkan perumahan tempat tinggal patra. Aku juga meninggalkan cintaku, harapanku, impianku, dan semua yang sudah aku rencanakan, aku tinggalkan disana. Aku ingin pulang dan mulai berdamai dengan hati.

Monday, 31 March 2014

Berlian Hitam (Lamaran Palsu)

Bunyi weker yang sangat nyaring itu kini membangunkanku di pagi yang dingin ini. Hawa dingin seakan berebut masuk kedalam tulang-tulangku dan singgah sebentar disana. Merasakan hangatnya tulang dan persendian yang dialiri literan darah hangat. Tubuh pun melemas seakan minta jatah istirahat lebih panjang, tetapi si pemilik tubuh ini tidak ingin menumpuk kerjaan dikantor yang beresiko di omeli oleh atasan berjam-jam lamanya.

Aku pun bergegas berangkat ke kantor dengan waktu yang tersisa hanyalah 30 menit,sedangkan jarak dari rumah ke kantor adalah 25 menit jika macet disana-sini. Aku tidak punya waktu untuk sarapan. Jadi aku menggunakan 5 menit yang tersisa untuk pergi ke supermarket yang berada dekat dengan kantor untuk membeli beberapa roti

Setelah sampai di supermarket aku langsung mengambil roti-roti yang telah tersedia di rak-rak roti tanpa memilah-milah terlebih dahulu. Setelah mengambil roti-roti tersebut aku pun segera berlari ke kasir untuk membayar. Takut antrian dikasir menjadi panjang. Di kasir hanya ada dua orang yang sedang mengantri. Aku berada diantrian yang ketiga. Satu lagi orang yang sedang mengantri, setelah itu giliranku. Belanjaannya tidaklah banyak, tetapi orang itu kehilangan dompetnya sehingga aku pun harus sabar menunggu sedikit lama. Masih kesal dengan orang didepanku ini, aku memutar kepala mencari hiburan melihat sekeliling. Tak sengaja mataku mendapati sebuah dompet berbahan kulit, berwarna coklat tua didekat rak perlengkapan kecantikan. Aku pun mengambil dompet itu dan memberikannya kepada karyawan supermarket yang sedang berada didekatku lalu kembali ke antrian kasir. Karyawan itu kemudian mengangkat dompet itu tinggi dan bersuara keras perihal si empunya dompet itu. Orang yang berada didepan ku bergeming dari tempatnya dan mendatangi karyawan tersebut. ternyata dompet itu milik lelaki yang mengantri didepanku. Aku bersyukur karena telah memungut dompet itu tadi, alhasil lelaki tadi selesai membayar, sehingga giliranku membayar tiba juga. Setelah membayar belanjaan, aku segera menuju ke kantor dengan kecepatan super tinggi.
Sesampainya dikantor, ternyata ruanganku sepi. Dimana anggota tim-ku. Kesal pun singgah, sebab pengorbananku menghabiskan tenaga untuk bergegas ke kantor sia-sia.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara letusan bom versi kecil yang tidak mengeluarkan asap tetapi mengeluarkan ribuan potongan kecil kertas warna-warni. Lalu diikuti dengan segerombolan orang yang ternyata adalah anggota tim-ku. Entah apa yang sedang mereka lakukan. Hari ini bukan ulang tahunku. Setelah bangun tidur aku terbiasa melihat kalender untuk memastikan hari ini bukan hari libur. Pernah suatu hari aku tidak melihat kalender sebelum berangkat ke kantor, dan akhirnya aku mendapati jalanan sepi dan kantor kosong. Hanya ada beberapa petugas keamanan yang berlalu-lalang. Maka dari itu aku tidak pernah sekalipun melewatkan melihat kalender sebelum berangkat ke kantor. Dan aku sangat yakin hari ini bukanlah hari ulang tahunku. Lalu teman kantorku yang juga anggota tim, Kisha, memberi ucapan selamat. Aku Semakin yakin mereka salah hari. teman-teman lainnya kini juga ikut memberondongku dengan ucapan selamat tanpa perduli dengan tatapan kebingunganku. orang terakhir yang mengucapkan selamat si anak magang yang akhirnya membuat aku benar-benar bingung. "selamat ya kak, duhh bahagianya seandainya aku juga dilamar sama mr. perfect”ucapnya tanpa dosa. Mr. perfect? Siapa? Patra? Tapi patra kan sedang ada pertemuan diluar negeri....

Sunday, 23 March 2014

Berlian Hitam

Malam itu ketika hujan turun dengan derasnya, seseorang yang berpakaian serba hitam berdiri di sudut kota sambil memandangi sebuah gedung pencakar langit. Di sudut kota itu juga aku masih mematung memandangi hujan deras dari balik jendela kaca sebuah gedung yang terletak berseberangan dengan gedung pencakar langit itu. 

Tak sengaja mataku menangkap sesosok manusia berpakaian serba hitam. Dari tempat ia berdiri terdapat sebuah lampu jalan yang tepat menyorot sosok itu. Tampak oleh ku sesaat sosok manusia itu menatap penuh takjub, sesaat kemudian ia menatap penuh harap, dan sesaat sebelum ia beranjak dari tempat sebelumnya ia mematung, aku melihat raut muka yang sangat mengerikan, kebencian itu tampak jelas di wajahnya.

Namaku Yuka. Aku seorang karyawan disebuah perusahaan pertelevisian khususnya seorang direktur program untuk sebuah program televisi yang tayang sekali tiap minggunya. Sedikitnya waktu kerja membuat aku terlalu sering menghabiskan waktu yang lumayan banyak untuk membaca novel dan menonton film-film sampai aku merasa aku terlalu sering berimajinasi sehingga pikiranku sudah lebih dulu menggambarkan skenario apa yang akan terjadi selanjutnya yang di bintangi oleh sosok berpakaian hitam itu.

Jarum jam dinding diruangan ku sudah bergerak ke angka sepuluh, tetapi seseorang yang aku tunggu juga tak kunjung tiba. Mulai bosan dengan apa yang ada disekitarku, aku lebih memilih untuk memperhatikan sosok tadi. Takut? Tentu tidak, malah aku menjadi sangat ingin tahu apa sebenarnya yang menjadi motivasi sosok itu untuk berdiri mematung berjam-jam lamanya di depan gedung tersebut.

Aku melihat ia memasukkan tangan kanannya kedalam saku celana sedikit lama untuk mengambil sesuatu, terlihat jelas sesuatu itu bergerak kekanan dan kekiri kemudian terdiam, aku penasaran apa sebenarnya yang sedang dilakukannya. Tak berapa lama setelah itu lampu sebuah mobil tepat bergerak kearah sosok itu sehingga aku melihatnya dengan sangat jelas. Lekas ia memasukkan kembali sesuatu yang sedari tadi ia pegang dibalik saku celananya dan kemudian sesegera mungkin mengeluarkan tangannya ke posisi semula. Bergegas ia meninggalkan tempat itu.

Hujan kini sudah reda. Akhirnya yang ditunggu datang juga. Patra adalah lelaki yang sudah dua tahun ini bersama denganku melewati hari demi hari. Akhirnya ia datang juga untuk menjemputku, tidak biasanya ia terlambat tanpa pemberitahuan. Aku pun segera bersiap memasang muka masam dan sejurus pembelaan diri. Tak perlu berlama-lama berjalan mendekati pintu utama, lelaki dengan pakaian rapi sudah menunggu ku di samping pintu penumpang. Aku menyiapkan diri agar tidak luluh dengan tingkah lakunya itu. Tapi ternyata pertahananku runtuh seketika, ketika tiba-tiba entah dari mana datangnya sebuket bunga yang kini telah berada didepanku. Laki-laki ini pun langsung membuka pintu mobil dan mempersilakan aku masuk ke dalamnya. Tapi saat hendak masuk, sekilas aku melihat sosok gelap, laki-laki dibawah rintik gerimis. Kini sosok itu terasa begitu mengerikan, entah dari mana datangnya. Dan kali ini aku yakin, dia sedang memperhatikan kami. Siapa sebenarnya sosok itu.