Hitungan beberapa
jam lagi umurku akan bertambah. Hal ini lantas tak membuatku “bagai kacang lupa
kulit”, terimakasih yang teramat sangat besar untuk Allah Swt yang masih
mengijinkan aku untuk terus memperbaiki diri, terimakasih teramat besar untuk
kedua orangtua yang sudah bersedia menjaga dan merawatku sejak masih dalam
kandungan hingga aku se-”besar” ini. (Hahahahahah, jayus amat).
Malam ini setelah
dapat traktiran makan untuk double hari lahirnya “sister and brother-in-law”
kita semua ngumpul diruang tengah cerita-cerita tentang gimana awalnya seonggok
tulang dan daging yang bernama “Yaumil Khairiyah” ini lahir dan bertumbuh. Dan aku
baru nemuin satu kepingan puzzle baru.
Selain kronologis
kelahiran yang aku tuangkan dalam biografi, fakta lainnya adalah kelahiranku
lebih cepat satu minggu dari yang telah diprediksikan dokter kandungan, kemudian
potongan lainnya yaitu proses lahiran yang tidak terlalu lama yaitu satu jam
setengah, 8.45-10.15. Jadi tepatnya, Yaumil Khairiyah lahir 01 Oktober 1994
pada pukul 10.15. Anak ketiga dari empat bersaudara, “si peacemaker”.
Kemudian cerita
berlanjut dengan “sosok ayah yang saat ini amat sangat kurindukan itu” yang sangat
menyayangiku. Yaaaah, layaknya seorang ayah yang teramat sangat jatuh cinta pada
anak perempuannya. Beliau tak pernah rela meninggalkanku (kebetulan beliau
tugas diluar daerah saat itu), ketika weekend
tak banyak kerjaan beliau berusaha melakukan
perjalanan puluhan jam pulang-pergi dari kota-ke kota lain hanya untuk
meluangkan waktunya untuk aku dan kedua saudaraku.
(tetiba
meeeeelo~ gitu) aku masih ingat jelas “berantem” kita ayah, gigit-gigitan
tangan. Aku yang dulunya si “anak bersih”, suka risih sama air ludah bekas
gigitan, jadi sebisa mungkin menghindari gigitan ayah. Masih ingat jeritan
aduan aku ke mamak “maaaaaakkkk, bapak gigit-gigit omil ni maaaaak”, jeritan
minta pertolongan. (ya Allaaaaaah, rinduuuu *hiks)
Terimakasih
untuk hadiah seumur-hidup yang mamak-bapak kasih.