Monday, 31 March 2014

Berlian Hitam (Lamaran Palsu)

Bunyi weker yang sangat nyaring itu kini membangunkanku di pagi yang dingin ini. Hawa dingin seakan berebut masuk kedalam tulang-tulangku dan singgah sebentar disana. Merasakan hangatnya tulang dan persendian yang dialiri literan darah hangat. Tubuh pun melemas seakan minta jatah istirahat lebih panjang, tetapi si pemilik tubuh ini tidak ingin menumpuk kerjaan dikantor yang beresiko di omeli oleh atasan berjam-jam lamanya.

Aku pun bergegas berangkat ke kantor dengan waktu yang tersisa hanyalah 30 menit,sedangkan jarak dari rumah ke kantor adalah 25 menit jika macet disana-sini. Aku tidak punya waktu untuk sarapan. Jadi aku menggunakan 5 menit yang tersisa untuk pergi ke supermarket yang berada dekat dengan kantor untuk membeli beberapa roti

Setelah sampai di supermarket aku langsung mengambil roti-roti yang telah tersedia di rak-rak roti tanpa memilah-milah terlebih dahulu. Setelah mengambil roti-roti tersebut aku pun segera berlari ke kasir untuk membayar. Takut antrian dikasir menjadi panjang. Di kasir hanya ada dua orang yang sedang mengantri. Aku berada diantrian yang ketiga. Satu lagi orang yang sedang mengantri, setelah itu giliranku. Belanjaannya tidaklah banyak, tetapi orang itu kehilangan dompetnya sehingga aku pun harus sabar menunggu sedikit lama. Masih kesal dengan orang didepanku ini, aku memutar kepala mencari hiburan melihat sekeliling. Tak sengaja mataku mendapati sebuah dompet berbahan kulit, berwarna coklat tua didekat rak perlengkapan kecantikan. Aku pun mengambil dompet itu dan memberikannya kepada karyawan supermarket yang sedang berada didekatku lalu kembali ke antrian kasir. Karyawan itu kemudian mengangkat dompet itu tinggi dan bersuara keras perihal si empunya dompet itu. Orang yang berada didepan ku bergeming dari tempatnya dan mendatangi karyawan tersebut. ternyata dompet itu milik lelaki yang mengantri didepanku. Aku bersyukur karena telah memungut dompet itu tadi, alhasil lelaki tadi selesai membayar, sehingga giliranku membayar tiba juga. Setelah membayar belanjaan, aku segera menuju ke kantor dengan kecepatan super tinggi.
Sesampainya dikantor, ternyata ruanganku sepi. Dimana anggota tim-ku. Kesal pun singgah, sebab pengorbananku menghabiskan tenaga untuk bergegas ke kantor sia-sia.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara letusan bom versi kecil yang tidak mengeluarkan asap tetapi mengeluarkan ribuan potongan kecil kertas warna-warni. Lalu diikuti dengan segerombolan orang yang ternyata adalah anggota tim-ku. Entah apa yang sedang mereka lakukan. Hari ini bukan ulang tahunku. Setelah bangun tidur aku terbiasa melihat kalender untuk memastikan hari ini bukan hari libur. Pernah suatu hari aku tidak melihat kalender sebelum berangkat ke kantor, dan akhirnya aku mendapati jalanan sepi dan kantor kosong. Hanya ada beberapa petugas keamanan yang berlalu-lalang. Maka dari itu aku tidak pernah sekalipun melewatkan melihat kalender sebelum berangkat ke kantor. Dan aku sangat yakin hari ini bukanlah hari ulang tahunku. Lalu teman kantorku yang juga anggota tim, Kisha, memberi ucapan selamat. Aku Semakin yakin mereka salah hari. teman-teman lainnya kini juga ikut memberondongku dengan ucapan selamat tanpa perduli dengan tatapan kebingunganku. orang terakhir yang mengucapkan selamat si anak magang yang akhirnya membuat aku benar-benar bingung. "selamat ya kak, duhh bahagianya seandainya aku juga dilamar sama mr. perfect”ucapnya tanpa dosa. Mr. perfect? Siapa? Patra? Tapi patra kan sedang ada pertemuan diluar negeri....

No comments:

Post a Comment