Selasa, 4 April 2000. Hari itu
cuaca sedang panas terik. Seorang ayah pergi mengendarai motornya untuk
mengecek mobil yang sedang diperbaiki di bengkel. Kemudian seorang anak berumur
lima tahunan dengan memakai pakaian dalam, berlari mengejar ayahnya meminta
untuk pergi bersama ayahnya. Biasanya si ayah dengan senang hati mengijinkan si
anak untuk ikut, tetapi tidak hari itu. Si anak pun mulai menangis dalam diam.
Lalu kembali masuk kedalam rumah. Anak itu adalah aku.
Beberapa jam kemudian, ayah
pulang diantar dengan mobil oleh pegawai bengkel. Waktu itu ayah mengeluh sakit
pada perutnya. Memang ayah punya riwayat penyakit Maag. Dan hari itu sebelum
berangkat ke bengkel, ia hanya makan bubur kacang hijau yang dibuat mamak tanpa
memakan nasi sebagai pembuka. Waktu itu dirumah hanya ada ayah, mamak, aku dan
adikku yang masih berumur 9 bulan, sedangkan kakak dan abang sedang berlibur ke
rumah nenek. Aku khawatir dengan keadaan ayah, maka aku bertanya pada mamak
berkali-kali tapi tidak ada jawaban. Mamak malah membentakku dan menyuruhku
membawa adik masuk kedalam kamar. Kemudian mamak memanggilku kembali. Aku
menyuruh adikku untuk tidur saja ditempat tidur dan jangan kemana-mana, saat
itu dia mengerti apa yang ku katakan. Ternyata mamak menyuruh aku untuk memanggil
tetangga kami yang biasanya membantu menyembuhkan orang dengan pengobatan
herbal. Setelah memanggil tetanggaku, aku kembali masuk kekamar. Tanpa tahu apa
yang akan mereka lakukan.
Tak berapa lama ambulans
datang dan ayah dibawa kerumah sakit bersama mamak dan tetanggaku. Aku menunggu
dirumah bersama adikku dengan kecemasan tingkat tinggi. Aku memeluknya erat, saangattt
erat. Aku berdoa semoga semuanya baik-baik saja, berharap kekhawatiranku salah.
Setengah jam kemudian aku
mendengar suara mobil berhenti didepan rumah kami. Aku bangkit dan berlari
keluar dengan riangnya, ingin menyambut ayah yang baru saja pulang dari rumah
sakit untuk berobat. Ketika aku membuka pintu rumah, suara ambulans jelas
sekali terdengar. Orang-orang yang tinggal dilingkungan kami mulai berdatangan
kerumah, dan ayah sedang diangkat masuk kedalam rumah dengan ditutup sehelai
kain diatasnya. Tubuhnya tegang dan tak bergerak, hanya melewati aku yang
berdiri didepan pintu tanpa menyapaku, hanya diam membisu. Aku melihat satu
persatu sanak saudara dengan mata yang memerah memenuhi rumah kami. Orang yang
sangat ingin kutemui dan kuminta penjelasan adalah mamak. Ketika telah dapat
kulihat sosok itu, aku langsung menghampirinya dan seketika itu juga mamak
memelukku kemudian memeluk adikku dan menggendongnya. Mamak menjelaskan keadaan
saat itu bahwa ayah tidak lagi bisa bersama kami. Aku melihat ketegaran itu
dimata mamak, terlihat air mata yang turun dengan lambat. Selamat jalan ayah. Semoga ayah tenang disana. Sayang ayah.
Ayah, apa kabar? Ayah baik-baik aja kan disana. Kami juga
baik-baik aja disini, ayah jangan kuatir ya, mamak hebat loh yah.
Ayah, adek unil bentar lagi UAN, doain ya yah biar dia lulus
dengan nilai yang memuaskan. Selama ini dia dapat rangking 2 terus yah,
menangin segala macam lomba dan olimpiade juga yah.
Yah, kak dini udah nikah loh yah, abang yang jadi walinya
ngengantiin ayah. Hebat ya abang yah, walaupun ijab qabul yang pertama abang
tersendat karena teringat ayah, tapi yang kedua lancar yah. Abang juga sekarang
udah kerja yah, tapi masih kontrak.
Yah omil sekarang udah kuliah. omil kuliah di fakultas
kedokteran yah, tapi bukan pendidikan dokter, maaf ya yah omil nggak bisa jadi
ahli forensik yang kayak ayah mau. Tapi nantik omil mau coba psikologi
forensiknya yah. Meleset sedikit nggak apa-apa kali ya yah. Yah omil kangen
sama ayah, ayah tau tiap hari omil ke kampus omil lewat kantor ayah. Omil jadi
mikir, kalau ayah masih ada mungkin omil kekampusnya diantarin ayah kali ya
yah.
Yah, akhir-akhir ini setiap jum’at malam omil selalu
ngedapatin mamak lagi nangis yah, mamak kangen ayah. Besok paginya mamak cerita
mimpiin ayah. Ayah sering-sering datang ke mimpi mamak ya, biar kangennya mamak
terobati. Daa ayahhh J
Salam
sayang
Anak
ayah
