Hari ibu diperingati
untuk mengungangkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu, dan untuk
memuji keibuan para ibu. Hari ibu di Indonesia jatuh pada tanggal 22 Desember
setiap tahunnya. Nah berhubung ini hari yang sangat spesial untuk seluruh ibu di
nusantara, aku mau berbagi kisah salah satu ibu dari ribuan ibu yang luar
biasa, yang tujuannya adalah mengingatkan kita akan jasa besar orang tua,
khususnya ibu, terhadap kita anak-anaknya. Check it out!
Aku dilahirkan pada
hari dimana orang tengah sibuk melaksanakan upacara kesaktian pancasila. Yaa,
hari itu tanggal 01 Oktober. Walau ibu tak bisa memilih untuk melahirkan anak
seperti apa, tak tau bahwa anak yang akan dilahirkannya akan jadi apa, tetapi beliau
tetap berusaha untuk melahirkan anak itu. Akhirnya ketika jam menunjukkan
10.15, anak itu dilahirkan dengan normal tanpa kurang suatu apapun. Beliau tak
pernah tau anak itu akan terus menyusahkannya kelak.
Diawal hidupku, tiga
tahun pertama aku benar-benar membanggakannya. Selalu menjadi anak yang penurut
dan selalu membuatnya tersenyum. Pola tingkah lucu yang aku perlihatkan seolah
selalu berhasil mengusir rasa penatnya dari pekerjaannya dikantor. Sifat ceria
yang aku miliki aku dapatkan darinya. Jika kalian juga bertanya bagaimana sifat
usil dan jahil yang aku miliki, itu juga aku dapatkan darinya. Sangat ironis,
jika kalian membandingkan aku yang dulu dengan aku yang sekarang.
Ibu sebenarnya adalah
orang yang paling ceria, yang penuh rasa humor dan sebagainya. Tapi sosok ibu
yang seperti itu tak kudapatkan lagi, dan tak kulihat lagi semenjak ayah pergi
meninggalkan kami begitu saja. Tak ada riwayat penyakit yang serius, hanya
begitu saja Ia meninggalkan kami. Aku mengerti dan aku tau itu sebab mengapa
ibu berubah menjadi sosok dingin yang sangat aku benci. Itu semua karena Ibu
kehilangan separuh jiwanya. Sosok laki-laki yang melindunginya. Tempatnya
berbagi suka dan duka.
Mungkin hanya aku
satu-satunya orang yang membenci ibu mereka. Aku benci ibu yang hampir tak
punya waktu lagi untuk bersama kami, ibu hanya fokus dengan pekerjaannya. Rasa
benci itu aku luapkan dengan perilaku pemberontakan kecil-kecilan. Malas
membantu ibu dirumah, malas belajar, malas sekolah, hingga aku malas melihat
muka beliau. Memang, aku lah si anak durhaka itu, yang nantinya akan menemani
patung malin kundang. Peran utama dari cerita dongeng yang sangat terkenal itu.
Cukup lama aku hidup
dengan membenci ibuku, sampai akhirnya kini menjelang masa pensiunnya. Aku baru
mengerti bahwa kerja kerasnya selama ini hanya untuk kami. Tak pernah aku
melihat ibu menghamburkan uang untuk kesenangan pribadi. Ibu pasti akan lebih
mendahulukan kebutuhan kami. Aku baru paham mengapa selama ini ibu menghabiskan
waktunya untuk bekerja bukan dengan kami anak-anaknya. Aku kini tau sulitnya
menjadi Ibu yang terpaksa mengambil peran sebagai Single Parent. Semua
itu dilakukannya bukan hanya untuk menghidupi kami saja, tetapi juga agar kami
dapat merasakan manisnya pendidikan hingga jenjang Perguruan Tinggi.
Berjuta maaf takkan bisa menghapus semua kesalahan yang telah kuperbuat bu. Maaf jika sampai saat ini rasa benci itu masih sering singgah dihati yang kotor ini. Maaf atas segala perbuatan yang membuat luka di hati ibu. Terima kasih yang sebesar-besarnya ku ucapkan padamu ibu Tati Suarni yang selama ini selalu sabar mendidik dan membimbing kami ke jalan yang benar. Ibu, kau berhasil menjadi wanita paling setia didunia ini. Kau sanggup merasakan susahnya menghidupi keluarga tanpa berfikir untuk mencari pendamping. Rasa benci ini sekarang berubah menjadi cinta yang sangat mendalam. Nan jeongmal saranghaeyo eomma.
Teringat sebuah
kalimat yang sangat menyayat hati. "Jangan sekali-kali melakukan atau
mengatakan sesuatu yang bisa melukai hati ibu, karena dengan perkataan ataupun
perlakuan itu dapat mengurangi umur ibu kita". Entahlah, aku belum
memastikan kalimat itu benar atau tidak. Tapi setidaknya kalimat itu bisa
mencegah kita untuk tidak melakukan atau mengatakan hal yang dapat
menyakitinya.
Happy Mother's Day Mom <3 :D :*
Happy Mother's Day Mom <3 :D :*
No comments:
Post a Comment