Kamis, 12 Januari.
Saat itu lantunan ayat suci mulai terdengar mengalun alun, aku sudah duduk dibarisan pertama sejajar dengan dia yang sebentar lagi akan merubah status hidupnya, anak-istri, aku melihat ia tertunduk sembari meremas jari jemarinya. Ku ramal, pasti ia gugup.
Terpisah agak jauh dibarisan yang sama orang yang sebentar lagi akan mengambil tanggung jawab besar terduduk tenang sembari sesekali melempar senyum kepada tamu undangan yang hadir, namun bagiku tergurat jelas kecemasan diwajahnya.
Disisi lain aku melihat ayahnya yang menjadi wali nikah berjalan dituntun oleh seorang laki-laki paruh baya, lambat aku tau ternyata sang ayah mulai hilang fungsi penglihatannya.
Ayah itu dulunya ramah menyapaku ketika bertamu kerumahnya, yang sering bersenda, bertegur sapa ketika hendak ke masjid, mungkin saat ini pun beliau tak menyadari kehadiranku.
Kemudian acara yang sesungguhnya pun dimulai, ijab qabul, kau tau, seketika aku ingin menangis, bukan karna temanku sudah menjadi milik suaminya, tapi lebih karena kalimat "aku nikahkan engkau dengan anak kandung saya...". Sayangnya sampai kapanpun aku tak akan pernah mendengar kalimat itu ditujukan untukku.
Seketika itu pula aku merindukanmu, bapak.
No comments:
Post a Comment