Wednesday, 30 September 2015

Once Upon A Time. . . . .

Hitungan beberapa jam lagi umurku akan bertambah. Hal ini lantas tak membuatku “bagai kacang lupa kulit”, terimakasih yang teramat sangat besar untuk Allah Swt yang masih mengijinkan aku untuk terus memperbaiki diri, terimakasih teramat besar untuk kedua orangtua yang sudah bersedia menjaga dan merawatku sejak masih dalam kandungan hingga aku se-”besar” ini. (Hahahahahah, jayus amat).

Malam ini setelah dapat traktiran makan untuk double hari lahirnya “sister and brother-in-law” kita semua ngumpul diruang tengah cerita-cerita tentang gimana awalnya seonggok tulang dan daging yang bernama “Yaumil Khairiyah” ini lahir dan bertumbuh. Dan aku baru nemuin satu kepingan puzzle baru.
Selain kronologis kelahiran yang aku tuangkan dalam biografi, fakta lainnya adalah kelahiranku lebih cepat satu minggu dari yang telah diprediksikan dokter kandungan, kemudian potongan lainnya yaitu proses lahiran yang tidak terlalu lama yaitu satu jam setengah, 8.45-10.15. Jadi tepatnya, Yaumil Khairiyah lahir 01 Oktober 1994 pada pukul 10.15. Anak ketiga dari empat bersaudara, “si peacemaker”.

Kemudian cerita berlanjut dengan “sosok ayah yang saat ini amat sangat kurindukan itu” yang sangat menyayangiku. Yaaaah, layaknya seorang ayah yang teramat sangat jatuh cinta pada anak perempuannya. Beliau tak pernah rela meninggalkanku (kebetulan beliau tugas diluar daerah saat itu), ketika weekend  tak banyak kerjaan beliau berusaha melakukan perjalanan puluhan jam pulang-pergi dari kota-ke kota lain hanya untuk meluangkan waktunya untuk aku dan kedua saudaraku.

(tetiba meeeeelo~ gitu) aku masih ingat jelas “berantem” kita ayah, gigit-gigitan tangan. Aku yang dulunya si “anak bersih”, suka risih sama air ludah bekas gigitan, jadi sebisa mungkin menghindari gigitan ayah. Masih ingat jeritan aduan aku ke mamak “maaaaaakkkk, bapak gigit-gigit omil ni maaaaak”, jeritan minta pertolongan. (ya Allaaaaaah, rinduuuu *hiks)

Terimakasih untuk hadiah seumur-hidup yang mamak-bapak kasih.